Title : Cry, Try and Fly (Part.3)
Author : Sineunyoung
Length : Chapter
Genre : Friendship, hurt & fantasy
Rating : General
Cast : Jo Youngmin Boyfriend
Yeosin (OC)
Jo Kwangmin Boyfriend
Other Cast : Temuin sendiri :)
Disclaimer : No Plagiarism!
Author 's note : Typo bertebaran :D Happy reading & comment juseyo.. :)
“Sepertinya aku sudah punya nama untukmu.” Ucapnya
di sela keheningan.
Young menutup buku yang di penuhi dengan foto artis
idolanya itu, dan meletakkannya di tempat di mana gambar itu tadi ia letakkan.
Setelah meletakkan
bukunya, Young melihat gadis itu menatap dengan lekat gambar
Bidadari yang terpajang di dinding apartemenya. Young tersenyum, tiba-tiba ia
melihat gambar Bidadari itu masih berada di tangan sang gadis. Young
mengambilnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak bergerak, ia tetap menatap
gambar Bidadari di dinding apartemen.
“Mungkin itu lebih cocok untukmu. Apalagi kau juga
langsung melihatku, seperti aku sedang memanggil namamu, dan kau secara spontan
melihatku. Aku benar-benar tidak tahu kenapa langsung menyebut kata itu, tapi
mungkin itu sebuah takdir untukmu.” Ucapnya sambil menatap gambar Bidadari itu.
Kemudian menatap gadis itu lekat-lekat. “Maka dari itu, aku akan memanggilmu,
memanggilmu dengan nama YEOSHIN.” Ucapnya tegas.
Gadis itu kembali menatap YoungMin. Lagi dan lagi,
tanpa ekspresi. YoungMin menyentuh tangan gadis itu, membalikkannya dan
memberikannya gambar Bidadari itu.
“Ambillah. Karena kau menyukainya. Mulai sekarang,
namamu adalah Yeoshin. Kau dengar itu, Yeoshin?” tersenyum sambil terus menatap
gadis itu, Yeoshin. “Kau bukan orang Korea, benarkan?” tanyanya kembali dan
melepaskan tangannya pada tangan Yeoshin.
Gadis itu, Yeoshin memandang tangannya yang sedang
memegang gambar itu.
“ Karena itu kah kau tidak bisa bicara dan tidak
memahami apa perkataanku? Kau tahu baca Hangul?” tanyanya sambil menulis
namanya dalam Hangul. “Lihat! Ini namaku. Apa kau bisa membacanya?” sambungnya
memperlihatkan namanya di kertas.
Yeoshin mengambil kertas itu di tangan yang tidak
memegang gambar Bidadari. Ia memandang kertas itu dengan tatapan dingin.
Melihat Yeoshin tidak membacanya, Young mengambil kembali kertas itu dan menulis
namanya dalam huruf abjad.
“Bagaimana dengan ini? Kau bisa membacanya?”
menunjukkan kembali kertas itu.
Yeoshin kembali mengambilnya.
“YoungMin...” baca Yeoshin dengan suara yang sangat
pelan.
“Benar. Itu namaku. Dan ini adalah namaku dalam
tulisan Hangul. Sudah ku duga, kau bukan orang Korea. Hal itu juga terlihat
dari wajahmu.” Ucapnya sambil tersenyum. “Karena kau berada di Korea, kau
harusnya lebih dulu belajar Hangul. Aku akan mengajarkannya untukmu.”
Sambungnya.
Young menulis Hangul di kertas lain. Dia juga
menulis abjad di sampingnya. Itu memudahkan Yeoshin untuk belajar Hangul. Young
menulis kata sehari-hari dalam Korea, kata sapaan dan kata memperkenalkan diri.
Tak lupa YoungMin juga menulis nama Yeoshin.
“Aku akan mengajarkannya padamu. Sekarang bacalah
ini. Aku mau mandi dulu.” Kata Young sambil memberikan bahasa isyarat pada Yeoshin.
Yeoshin mengambil kertas itu, ia membacanya. Young
pun meninggalkannya sendiri di sofa. Meski begitu, Yeoshin tetap membacanya
dengan suara yang sangat pelan.
Young berbalik sebentar melihat Yeoshin, kemudian
kembali berjalan meninggalkan Yeoshin.
“Apa seharusnya aku membelikannya buku cara belajar
Hangul dan percakapan? Aku pikir itu akan sangat berguna.” Batin Young disela
berjalan menuju kamar mandi.
Yeoshin membacanya, bahkan menghafalnya. Ia dengan
serius membaca dan mengamati tulisan-tulisan tangan Young yang tertera di
kertas itu. Sambil menghafal setiap kata-kata, Yeoshin menatap gambar
Bidadari di tangan sebelahnya. Kemudian bergumam...
“Yeoshin.... Namaku Yeoshin....” Gumamnya pelan
tanpa ekspresi sama sekali.
Young selesai dari mandi, ia telah memakai kaus
putih dan celana pendek. Namun ia masih mengeringkan rambutnya menggunakan
handuk kecil berwarna biru, sepertinya selesai keramas.
Young menghampiri Yeoshin yang tengah membaca di
sofa, masih di sofa itu. Young duduk di dekat Yeoshin namun di sofa lain. Young
tersenyum kecil melihat Yeoshin membaca meskipun suara sangat kecil dan pelan.
“Kau tahu artinya kata ini?” tanyanya sambil
menunjuk kata “Jib (Rumah)”.
Yeoshin hanya menatap Young.
“Ini artinya.... ehm,, apa ya? Bagaimana caranya aku
mempraktekkan rumah?” Gumamnya sendiri.
Yeoshin masih tetap menatapnya tanpa ekspresi
apa-apa.
Hingga akhirnya Young kembali mengambil buku
kumpulan artis korea di bawah meja depan sofa yang di duduki oleh Young maupun Yeoshin.
Young membuka halaman demi halaman dibuku.
“Ini! Ini adalah gambar dari kata “Jib”.”
Kata Young memperlihatkan gambar “rumah” di buku kumpulan artis itu.
Yeoshin memperhatikan dalam-dalam. Sesekali ia
menatap Hangul “Jib” lalu menatap gambar rumah.
“Jib(Rumah)......” ujarnya dengan nada pelan.
Young merasa senang. Baginya, ia seperti menjadi
guru Bahasa Korea bagi anak yang berusia 5 tahun. Namun, hal ini sangat menarik
untuknya. Ia ingin mengajarkan banyak Bahasa Korea bagi gadis yang ada
didepannya. Ia ingin berbicara banyak dengan gadis yang dia beri nama Yeoshin
itu.
Saking semangatnya mengajarkan Yeoshin Bahasa Korea,
tidak terasa malam semakin larut.
“Yeo-ah, kau tidurlah disana.” Sambil menunjuk kasur
kecil yang ada di belakang sofa yang mereka duduki.
Yeoshin menurut, ia bangkit dari duduknya dan
berjalan ke arah kasur yang ditunjuk Young tadi. Ia telah belajar banyak kata
tadi, makanya ia mengerti apa kata Young. Tidak lupa ia membawa kotak putih dan
gambar Bidadari yang di berikan Young tadi.
Setelah beberapa waktu, Young telah merapikan
kertas-kertas yang dipelajari Yeoshin tadi. Kemudian ia melihat ke arah Yeoshin
yang telah tertidur. Young melihat kotak putih yang ada di atas kasur, dan juga
gambar Bidadari yang Yeoshin letakkan di bantalnya. Ia melangkah ke arah Yeoshin,
duduk di tepi kasur dan mengambil kotak putih misterius itu dan meletakkannya
di meja yang ada di samping kasur itu.
Saat akan beranjak dari tepi kasur, Young tiba-tiba
berbalik dan menatap lekat-lekat wajah Yeoshin yang tengah tertidur.
“Aku tidak tahu siapa kau, tapi entah mengapa, aku
merasa kenal denganmu.” Gumamnya tetap menatap wajah polos yang tengah tertidur
itu.
“Wajah mu ketika tidur pun tidak berubah sama
sekali.” Sambungnya. Tiba-tiba ia melihat pakaian putih Yeoshin yang juga ada
bercak warna merah.
“Apa ini? Apa ini darah? Bagaimana bisa ia
mengenakan pakaian ini terus nantinya? Apa dia terluka?” Perasaan ingin tahunya
semakin besar ketika melihat baju Yeoshin dan juga kotak putih yang dibawa
gadis itu dari bandara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar