Minggu, 22 Mei 2016

FanFiction Boyfriend (Cry, Try and Fly)

 
Title : Cry, Try and Fly (Part.3)
 Author : Sineunyoung
Length : Chapter
Genre : Friendship, hurt & fantasy
Rating : General
Cast : Jo Youngmin Boyfriend
               Yeosin (OC)
               Jo Kwangmin Boyfriend
Other Cast : Temuin sendiri :)
Disclaimer : No Plagiarism!
Author 's note : Typo bertebaran :D Happy reading & comment juseyo.. :)


“Sepertinya aku sudah punya nama untukmu.” Ucapnya di sela keheningan.
Young menutup buku yang di penuhi dengan foto artis idolanya itu, dan meletakkannya di tempat di mana gambar itu tadi ia letakkan. Setelah meletakkan
bukunya, Young melihat gadis itu menatap dengan lekat gambar Bidadari yang terpajang di dinding apartemenya. Young tersenyum, tiba-tiba ia melihat gambar Bidadari itu masih berada di tangan sang gadis. Young mengambilnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak bergerak, ia tetap menatap gambar Bidadari di dinding apartemen.
“Mungkin itu lebih cocok untukmu. Apalagi kau juga langsung melihatku, seperti aku sedang memanggil namamu, dan kau secara spontan melihatku. Aku benar-benar tidak tahu kenapa langsung menyebut kata itu, tapi mungkin itu sebuah takdir untukmu.” Ucapnya sambil menatap gambar Bidadari itu. Kemudian menatap gadis itu lekat-lekat. “Maka dari itu, aku akan memanggilmu, memanggilmu dengan nama YEOSHIN.” Ucapnya tegas.
Gadis itu kembali menatap YoungMin. Lagi dan lagi, tanpa ekspresi. YoungMin menyentuh tangan gadis itu, membalikkannya dan memberikannya gambar Bidadari itu.
“Ambillah. Karena kau menyukainya. Mulai sekarang, namamu adalah Yeoshin. Kau dengar itu, Yeoshin?” tersenyum sambil terus menatap gadis itu, Yeoshin. “Kau bukan orang Korea, benarkan?” tanyanya kembali dan melepaskan tangannya pada tangan Yeoshin.
Gadis itu, Yeoshin memandang tangannya yang sedang memegang gambar itu.
“ Karena itu kah kau tidak bisa bicara dan tidak memahami apa perkataanku? Kau tahu baca Hangul?” tanyanya sambil menulis namanya dalam Hangul. “Lihat! Ini namaku. Apa kau bisa membacanya?” sambungnya memperlihatkan namanya di kertas.
Yeoshin mengambil kertas itu di tangan yang tidak memegang gambar Bidadari. Ia memandang kertas itu dengan tatapan dingin. Melihat Yeoshin tidak membacanya, Young mengambil kembali kertas itu dan menulis namanya dalam huruf abjad.
“Bagaimana dengan ini? Kau bisa membacanya?” menunjukkan kembali kertas itu.
Yeoshin kembali mengambilnya.
“YoungMin...” baca Yeoshin dengan suara yang sangat pelan.
“Benar. Itu namaku. Dan ini adalah namaku dalam tulisan Hangul. Sudah ku duga, kau bukan orang Korea. Hal itu juga terlihat dari wajahmu.” Ucapnya sambil tersenyum. “Karena kau berada di Korea, kau harusnya lebih dulu belajar Hangul. Aku akan mengajarkannya untukmu.” Sambungnya.
Young menulis Hangul di kertas lain. Dia juga menulis abjad di sampingnya. Itu memudahkan Yeoshin untuk belajar Hangul. Young menulis kata sehari-hari dalam Korea, kata sapaan dan kata memperkenalkan diri. Tak lupa YoungMin juga menulis nama Yeoshin.
“Aku akan mengajarkannya padamu. Sekarang bacalah ini. Aku mau mandi dulu.” Kata Young sambil memberikan bahasa isyarat pada Yeoshin.
Yeoshin mengambil kertas itu, ia membacanya. Young pun meninggalkannya sendiri di sofa. Meski begitu, Yeoshin tetap membacanya dengan suara yang sangat pelan.
Young berbalik sebentar melihat Yeoshin, kemudian kembali berjalan meninggalkan Yeoshin.
“Apa seharusnya aku membelikannya buku cara belajar Hangul dan percakapan? Aku pikir itu akan sangat berguna.” Batin Young disela berjalan menuju kamar mandi.
Yeoshin membacanya, bahkan menghafalnya. Ia dengan serius membaca dan mengamati tulisan-tulisan tangan Young yang tertera di kertas itu.  Sambil menghafal setiap kata-kata, Yeoshin menatap gambar Bidadari di tangan sebelahnya. Kemudian bergumam...
“Yeoshin.... Namaku Yeoshin....” Gumamnya pelan tanpa ekspresi sama sekali.
Young selesai dari mandi, ia telah memakai kaus putih dan celana pendek. Namun ia masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil berwarna biru, sepertinya selesai keramas.
Young menghampiri Yeoshin yang tengah membaca di sofa, masih di sofa itu. Young duduk di dekat Yeoshin namun di sofa lain. Young tersenyum kecil melihat Yeoshin membaca meskipun suara sangat kecil dan pelan.
“Kau tahu artinya kata ini?” tanyanya sambil menunjuk kata “Jib (Rumah)”.
Yeoshin hanya menatap Young.
“Ini artinya.... ehm,, apa ya? Bagaimana caranya aku mempraktekkan rumah?” Gumamnya sendiri.
Yeoshin masih tetap menatapnya tanpa ekspresi apa-apa.
Hingga akhirnya Young kembali mengambil buku kumpulan artis korea di bawah meja depan sofa yang di duduki oleh Young maupun Yeoshin. Young membuka halaman demi halaman dibuku.
“Ini! Ini adalah gambar dari kata “Jib”.” Kata Young memperlihatkan gambar “rumah” di buku kumpulan artis itu.
Yeoshin memperhatikan dalam-dalam. Sesekali ia menatap Hangul “Jib” lalu menatap gambar rumah.
“Jib(Rumah)......” ujarnya dengan nada pelan.
Young merasa senang. Baginya, ia seperti menjadi guru Bahasa Korea bagi anak yang berusia 5 tahun. Namun, hal ini sangat menarik untuknya. Ia ingin mengajarkan banyak Bahasa Korea bagi gadis yang ada didepannya. Ia ingin berbicara banyak dengan gadis yang dia beri nama Yeoshin itu.
Saking semangatnya mengajarkan Yeoshin Bahasa Korea, tidak terasa malam semakin larut.
“Yeo-ah, kau tidurlah disana.” Sambil menunjuk kasur kecil yang ada di belakang sofa yang mereka duduki.
Yeoshin menurut, ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kasur yang ditunjuk Young tadi. Ia telah belajar banyak kata tadi, makanya ia mengerti apa kata Young. Tidak lupa ia membawa kotak putih dan gambar Bidadari yang di berikan Young tadi.
Setelah beberapa waktu, Young telah  merapikan kertas-kertas yang dipelajari Yeoshin tadi. Kemudian ia melihat ke arah Yeoshin yang telah tertidur. Young melihat kotak putih yang ada di atas kasur, dan juga gambar Bidadari yang Yeoshin letakkan di bantalnya. Ia melangkah ke arah Yeoshin, duduk di tepi kasur dan mengambil kotak putih misterius itu dan meletakkannya di meja yang ada di samping kasur itu.
Saat akan beranjak dari tepi kasur, Young tiba-tiba berbalik dan menatap lekat-lekat wajah Yeoshin yang tengah tertidur.
“Aku tidak tahu siapa kau, tapi entah mengapa, aku merasa kenal denganmu.” Gumamnya tetap menatap wajah polos yang tengah tertidur itu.
“Wajah mu ketika tidur pun tidak berubah sama sekali.” Sambungnya. Tiba-tiba ia melihat pakaian putih Yeoshin yang juga ada bercak warna merah.
“Apa ini? Apa ini darah? Bagaimana bisa ia mengenakan pakaian ini terus nantinya? Apa dia terluka?” Perasaan ingin tahunya semakin besar ketika melihat baju Yeoshin dan juga kotak putih yang dibawa gadis itu dari bandara.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar